Agus Bei, Pejuang Hutan Mangrove di Balikpapan

Agus Bei dari salah satu masyarakat Balikpapan, Kalimantan Timur, merupakan pegiat lingkungan yang melestarikan mangrove di pesisir pantai Balikpapan.

Saat ditemui lingkarkota.com, Ketua Magrove Center Agus Bei sedang mengerjakan pembuatan jembatan sepanjang 1400 meter, yang akan digunakan untuk melokalisir lokasi magrove  dan sarana edukasi dilingkungan magrove center.

Luasnya lahan hutan mangrove yang ada di teluk Balikpapan hingga mencapai 3000 hektar, mengakibatkan perlindungan atas kawasan tersebut semakin rentan atas pemanfaatan kawasan. Untuk itu pemerintah Kota Balikpapan akan mempersiapkan peraturan untuk mencegah kehancuran mangrove dalam bentuk peraturan daerah (perda) kawasan konservasi daerah.

Agus Bei menuturkan, penetapan kawasan merupakan upaya terakhir untuk melakukan penyelamatan mangrove dan teluk Balikpapan.

“Kami ini hanya masyarakat biasa yang memiliki niat untuk melakukan penyelamatan lingkungan dan menjaga lingkungan mangrove, selain itu kami tidak punya wewenang apapun, bila ada yang akan mengambil atau merusak mangrove yang notabennya itu merupakan tanah mereka kami tidak bisa berbuat apa-apa, karena tidak ada ketetapan mengenai kawasan mangrove ini,” ungkap Agus.

Bila melihat kebelakang tentang upaya masyarakat Graha Indah  menyelamatkan Mangrove di daerahnya, tentunya pemerintah sudah bisa berkaca, Agus Bei selama 19 di tahun menyumbangkan tenaga dan pikirannya untuk menyelamatkan mangrove di kawasan RT 14 Graha Indah, karena sebelumnya mangrove yang gundul oleh orang yang tidak bertanggung jawab, mengakibatkan tidak adanya penahan angin, sehingga hampir 300 rumah terserang angin putting beliung pada tahun 2001.

Baca Juga :   Rangkaian Giat Memperingati Hut Bhayangkara Ke-74, Lanal Balikpapan Ikuti Bhakti Sosial Dan Bagikan Sembako

Hal ini yang mendasari Agus Bei untuk melakukan penyelamatan terhadap hutan mangrove yang ada di kawasan tersebut, hingga saat ini.

“Kami dahulu selain panas dan gersang, kami terkena angin putting beliung, rumah rusak, sehingga kami punya niatan untuk menjaga mangrove ini melestarikannya, karena kami tau kalau rusak maka kami juga yang terkena dampaknya. Selama  13 tahun kami bekerja tanpa pamrih untuk menyelamatkan mangrove ini,” kata Agus.

Pria tamatan SMA di Banyuwangi itu mulai menanam mangrove di lokasi bekas pembabatan hutan pada 2001.

Disebut “Gila”

Ia sempat dicap “gila” karena melakukan hal yang dianggap warga sebagai suatu pekerjaan tidak berguna.

Bukan perkara mudah menanam mangrove, tanpa bekal pengetahuan. Bibit sering mati atau hanyut terbawa pasang air laut.

“Saya belajar otodidak memperhatikan proses mangrove di alamnya. Ternyata memang tidak mudah,” ungkapnya.

Baca Juga :   Mengenal Sosok Hasbi Muhammad Sekum E-Sport (ESI) Kaltim

Setelah berulang kali mencoba, Agus akhirnya tahu kunci utama adalah memastikan kualitas bibit, perawatan, hingga pemilihan lokasi tanam.

Saat merintis awal, Agus Bei menyampaikan jika, saat awal awal dia mengupayakan bibit dengan biaya pribadi dan membuka lahan magrove sendiri secara mandiri. Agus di bantu masyarakat sekitar untuk membuka magrove seluas 25 hektar hingga saat ini sekira140 hektar.

“Bibit berasal dari buah tua atau propagu yang dipetik pohon langsung. Bibit mangrove ditopang kayu yang kokoh agar tidak terhanyut saat pasang surut air laut,” jelasnya.

Yang juga tak kalah penting, membersihkan area dari sampah plastik yang mengganggu pertumbuhan mangrove. Pemasangan jaring sampah jadi pilihan agar tidak menimbun kawasan mangrove.

“Kalau semua tahapan ini dilakukan, saya jamin akan tumbuh sehat,” ujar peraih Piala Kalpataru untuk kategori perintis lingkungan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, tahun 2017.

Mendapat Kalpataru

Pada tahun 2017, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya menyerahkan 10 Kalpataru kepada perintis, pengabdi, penyelamat dan pembina lingkungan pada puncak peringatan Hari Lingkungan Hidup (HLH) di Manggala Wanabakti.

Satu orang warga Kalimantan Timur (Kaltim) memperoleh penghargaan Kalpataru untuk kategori perintis diterima oleh Agus Bei. Agus mendapatkan kalpataru sebagai pegiat lingkungan yang melestarikan mangrove di pesisir pantai Balikpapan.Agus Bei bersama Anuar dari Sumatera Selatan.

Baca Juga :   Rangkaian Giat Memperingati Hut Bhayangkara Ke-74, Lanal Balikpapan Ikuti Bhakti Sosial Dan Bagikan Sembako

Penghargaan yang diberikan secara simbolik di hadapan Presiden Joko Widodo antara lain 10 Kalpataru, 16 Adipura, enam Adipura Kencana, 116 Adipura, 24 Adiwiyata, dan 9 Niwarsita Tantra untuk tiga Gubernur, tiga Bupati dan tiga Wali Kota.

Agus Bei menjadi salah satu perwakilan Provinsi Kalimantan Timur dalam ajang usulan calon penerima Kalpataru tahun 2017. Agus telah memenuhi kriteria dan persyaratan sehingga dapat diverifikasi oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) untuk masuk dalam tahap penilaian.

“Penghargaan Kalpataru itu bukan di jadikan alasan untuk meminta, tapi dijadikan sebagai motivasi. Ini sebagai apresiasi untuk pengabdian, ini akan membawa nama harum daerah atas apa yang sudah dicapai dalam pelestarian lingkungan hutan Mangrove di Kalimantan Timur , dan Kota Balikpapan tercinta,” ujar Agus Bei.

Kalpataru adalah penghargaan yang diberikan kepada perorangan atau kelompok atas jasanya dalam melestarikan lingkungan hidup di Indonesia. Kalpataru sendiri adalah bahasa Sanskerta yang berarti pohon kehidupan (Kalpavriksha).










You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *