Menerapkan MIKiR dengan Gamifikasi Pembelajaran Daring

Samarinda – Erna Suhartini, M.Pd, fasilitator dosen Tanoto Foundation di Universitas Mulawarman Samarinda menerapkan gamifikasi pembelajaran daring. Gamifikasi diturunkan oleh Erna dari unsur pembelajaran aktif Mengalami, Interaksi, Komunikasi, Refleksi (MIKiR) yang diperkenalkan oleh Tanoto Foundation.

Dengan adanya unsur pembelajaran aktif MIKiR Tanoto Foundation, pembelajaran dua arah dapat terjamin walaupun aspek sosial terbatas di layar laptop atau telepon genggam. Salah satu strategi menerapkan salah satu unsur pembelajaran aktif interaksi adalah gamifikasi pembelajaran daring.

Erna menerapkan alur desain permainan dalam pembelajaran. Mahasiswa diminta untuk menggunggah hasil karya mahasiswa di YouTube. Setelah itu, mahasiswa bisa saling melihat hasil karya mahasiswa di YouTube. Mahasiswa bisa memilih likes dan mensubscribe YouTube yang disukai, serta memberikan komentar dalam kolom YouTube.

Baca Juga :   500 Mahasiswa Ikuti Tes Wawancara Beasiswa Pertamina

Lalu, Erna mengitung kalkulasi jumlah likes, subscription, dan komentar yang didapat. Untuk satu likes dikonversi menjadi 2 poin, 1 subscription mendapat 4 poin, dan komentar dinilai 5 poin.

Tantangan tersebut membuat mahasiswa lebih kreatif dalam menyajikan konten yang akan mereka unggah ke youtube. mereka harus belajar cara editing video, mereka tahu trik memilih judul dan deskripsi agar mudah di cari dan ditemukan serta menjadi peringkat dipencarian teratas. Bukan tidak mungkin hal tersebut menjadikan mahasiswa sebagai generasi Z yang terampil menjadikan YouTube sebagai sidejob yang menjanjikan, selain profesi utama nya sebagai seorang Guru.

Erna menyarankan untuk melihat kualitas konten produk yang diunggah ke YouTube, dosen bisa meminta mahasiswa untuk melalukan validasi sederhana. Minimal 1 dosen dan 1 guru dilibatkan untuk mengulas konten produk yang diunggah. Dengan demikian, tentunya sumber belajar semakin banyak, karena tidak hanya dari dosen pengampu dan teman sejawat juga dari viewer umum dan dari pakar. Jadi, konsep merdeka belajar kian terwujud.

Baca Juga :   Karya Kendaraan Listrik Mahsiswa STT Migas disaat Pandemi

Hal lain yang perlu diperhatikan agar konsep merdeka belajar diimplementasikan maksimal adalah dengan memperhatikan tenggang waktu dalam pengerjaan dan pengumpulan tugas/projek/hasil karya siswa. Para siswa kita perlu waktu untuk berdiskusi dengan teman sejawat dan menganalisis secara mendalam penugasan tersebut. Sehingga tidak ada kesan ingin membebani siswa dengan berbagai tugas yang menumpuk dan harus dikerjakan dalam waktu singkat.

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *