TENGGARONG – Kepala Puskesmas Loa Ipuh, Mariyati, menegaskan bahwa transformasi posyandu menjadi Posyandu Enam Standar Pelayanan Minimal (6 SPM) merupakan tonggak penting dalam penguatan layanan kesehatan dasar di masyarakat. Selama ini, posyandu kerap dipersepsikan hanya melayani ibu hamil serta bayi dan balita.
Hal tersebut disampaikannya usai kegiatan Sosialisasi Posyandu 6 SPM yang digelar di Balai Pertemuan Umum (BPU) Kelurahan Maluhu, Kecamatan Tenggarong, Selasa (13/1/2026).
Mariyati menjelaskan, sebelumnya posyandu hanya menjalankan satu SPM, yakni SPM kesehatan. Namun sejak 2024, khususnya di Kabupaten Kutai Kartanegara, posyandu diwajibkan menerapkan Integrasi Layanan Primer (ILP) sebagai pendekatan baru pelayanan kesehatan.
“SPM kesehatan sebenarnya sudah berjalan sejak lama. Yang berubah adalah pola pelayanannya. Melalui ILP, posyandu tidak lagi terbatas pada ibu hamil, bayi, dan balita,” jelasnya.
Dengan penerapan ILP, seluruh kelompok usia menjadi sasaran layanan posyandu, mulai dari bayi baru lahir, anak-anak, remaja, usia produktif, hingga lanjut usia. Setiap warga didorong untuk melakukan skrining kesehatan minimal satu kali dalam setahun guna mendeteksi faktor risiko penyakit sejak dini.
Perluasan cakupan layanan tersebut, diakui Mariyati, berdampak pada meningkatnya beban pelayanan di posyandu. Oleh karena itu, pelaksanaan SPM kesehatan tidak lagi cukup dilakukan dalam satu hari.
“Jumlah sasaran semakin banyak, sementara kemampuan kader terbatas. Secara teknis, posyandu minimal dilaksanakan dua kali dalam sebulan,” ujarnya.
Ia juga menuturkan bahwa ILP menghapus sekat-sekat layanan yang sebelumnya terpisah. Saat ini, seluruh pelayanan dipusatkan dalam satu sistem dengan satu jenis kader, yakni kader ILP, yang telah dibekali 25 kompetensi dasar.
“Siapa pun yang datang ke posyandu bisa langsung dilayani, tanpa melihat kelompok usianya. Kader ILP sudah dilatih untuk menangani seluruh siklus hidup,” terangnya.
Sebagai contoh, saat jadwal posyandu bayi dan balita, warga lansia atau usia produktif yang mengantar tetap dapat memeriksakan kesehatannya. Begitu pula sebaliknya, ibu hamil atau bayi yang datang pada jadwal layanan remaja atau lansia tetap akan dilayani.
“Tempatnya satu, momennya kita satukan. Hanya harinya yang dibagi karena jumlah sasarannya cukup besar,” katanya.
Di wilayah kerja Puskesmas Loa Ipuh, penerapan ILP masih terus dikembangkan. Dari total posyandu yang ada, baru lima posyandu yang telah menerapkan ILP secara penuh, sementara 21 posyandu lainnya masih dalam tahap penguatan.
“Tugas kami adalah meng-ILP-kan posyandu yang belum, sekaligus menyempurnakan yang sudah berjalan,” ujarnya.
Mariyati berharap, dengan penerapan Posyandu 6 SPM, khususnya di bidang kesehatan, kesadaran masyarakat untuk menjaga kesehatan semakin meningkat.
“Silakan datang ke posyandu sesuai jadwal. Semua siklus hidup dilayani. Tujuannya satu, meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dan mencegah penyakit sejak dini,” pungkasnya.
