Tradisi Kanji Rumbi Terancam Terhenti, Warga Aceh Masih Berjuang Pascabanjir

ACEH – Bencana banjir bandang dan longsor yang melanda sejumlah wilayah Sumatera pada akhir November 2025 masih menyisakan luka mendalam. Di Aceh, salah satu daerah terdampak, duka itu kini bertambah dengan ancaman terputusnya tradisi Ramadan yang telah diwariskan turun-temurun.

Salah satu tradisi yang terancam tidak dapat dilaksanakan tahun ini adalah memasak dan berbagi Kanji Rumbi, kuliner khas Aceh yang selalu hadir setiap bulan suci Ramadan.

Berdasarkan Kalender Hijriah 2026 dari Kementerian Agama, 1 Ramadan 1447 H diperkirakan jatuh pada 19 Februari 2026. Artinya, waktu menuju Ramadan tinggal menghitung hari. Namun, kondisi warga di sejumlah titik terdampak masih jauh dari pulih.

Baca Juga :   Janin Bayi Laki-Laki Ditemukan Mengapung di Sungai Ampal

Sejumlah bangunan yang biasa digunakan masyarakat untuk kegiatan sosial kini beralih fungsi menjadi dapur umum bagi pengungsi. Kerusakan infrastruktur dan hilangnya mata pencaharian membuat warga kesulitan mempersiapkan tradisi yang biasanya dilakukan secara gotong royong.

Dalam sebuah video yang beredar di media sosial, seorang warga Aceh mengungkapkan kesedihannya. Ia berdiri di antara puing bangunan yang rusak, menceritakan kemungkinan tradisi tersebut tak bisa dijalankan tahun ini.

“Sudah turun-temurun dari nenek moyang kami, sampai tahun kemarin masih dilakukan. Untuk tahun ini mungkin akan terputus,” ujarnya dengan suara bergetar.

Kanji Rumbi sendiri merupakan bubur khas Aceh yang diolah dari sekitar 30 jenis rempah, dipadukan dengan daging sapi dan udang. Hidangan ini dimasak dalam jumlah besar untuk kemudian dibagikan secara gratis kepada masyarakat sebagai bentuk kebersamaan dan kepedulian sosial.

Baca Juga :   Wabup Kukar Ulang Tahun, Burhan: Semoga H Rendi Membawa Kukar Kejenjang Yang Lebih Baik.

Biasanya, warga menyembelih dua ekor sapi setiap Ramadan untuk kebutuhan tradisi tersebut. Bahkan, hewan ternak dari BUMDes juga turut disiapkan untuk dibagikan kepada warga.

Namun, banjir bandang yang terjadi sebelumnya telah menghancurkan usaha peternakan milik warga. Banyak ternak hilang, sehingga sumber utama bahan pangan untuk tradisi itu pun lenyap.

“Usaha ternak di desa kami sudah musnah akibat banjir. Jadi untuk tradisi seperti biasanya, rasanya sulit terwujud tahun ini,” tuturnya.

Kekhawatiran ini mencerminkan bukan hanya kehilangan materi, tetapi juga ancaman hilangnya warisan budaya yang selama ini menjadi pengikat kebersamaan masyarakat saat Ramadan.

Di tengah pemulihan pascabencana, warga Aceh kini berharap ada dukungan agar tradisi Kanji Rumbi tetap bisa hidup, sebagai penguat semangat dan solidaritas di masa sulit.

Baca Juga :   Mulai 17 Juli Vaksin Booster Jadi Syarat Perjalanan

You May Also Like