Operasional RDMP Balikpapan Jadi Kunci Setop Impor BBM Nasional

BALIKPAPAN – Pemerintah menargetkan operasional proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Kilang Balikpapan sebagai momentum penting menuju kemandirian energi nasional. Bertambahnya kapasitas produksi kilang tersebut diyakini mampu memperkuat pasokan Bahan Bakar Minyak (BBM) dalam negeri sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan, mulai beroperasinya RDMP Kilang Balikpapan pada tahun ini membuka peluang bagi Indonesia untuk menghentikan impor BBM, khususnya solar. Hal itu dimungkinkan karena kebutuhan domestik dinilai dapat dipenuhi dari produksi nasional.

“Jika RDMP Kilang Balikpapan resmi beroperasi tahun ini, kami optimistis impor solar bisa dihentikan. Ini merupakan bagian dari upaya mendorong kedaulatan energi agar Indonesia tidak lagi bergantung pada impor BBM,” ujar Bahlil usai menghadiri agenda peresmian RDMP Balikpapan, Kalimantan Timur, Rabu (14/1/2026).

Baca Juga :   Rahma Tri Budi Utomo Dampingi Pangdam VI/Mlw Saksikan Sport Day Dan Culture Day

Bahlil memaparkan, kebutuhan solar nasional saat ini mencapai sekitar 39,8 juta kiloliter (kl) per tahun. Dari jumlah tersebut, program biodiesel B40 menyuplai FAME sekitar 15,9 juta kl per tahun, sehingga kebutuhan solar murni atau B0 berada di kisaran 23,9 juta kl.

Dengan kapasitas produksi dalam negeri yang telah mencapai 26,5 juta kl per tahun, pemerintah menargetkan penghentian impor solar, baik untuk CN 48 maupun CN 51, mulai pertengahan 2026.

Sementara untuk komoditas bensin, kebutuhan nasional tercatat sekitar 38,5 juta kl per tahun. Kebutuhan tersebut terdiri atas bensin RON 90 sekitar 28,9 juta kl, RON 92 sebesar 8,7 juta kl, serta RON 95 dan RON 98 sekitar 650 ribu kl per tahun.

Baca Juga :   Do'a Bersama Menjelang Hari Ulang Tahun TNI

Menurut Bahlil, optimalisasi RDMP Kilang Balikpapan memungkinkan peningkatan produksi bensin dengan nilai oktan di atas RON 90 hingga 5,5 juta kl per tahun. Dengan tambahan kapasitas tersebut, impor bensin beroktan tinggi dapat ditekan signifikan.

“Ke depan, melalui penerapan E10, impor bensin dapat dihemat hingga 3,9 juta kl per tahun. Bahkan, dengan pengembangan kilang lanjutan, kita menargetkan bisa menghentikan impor bensin RON 92, RON 95, dan RON 98, serta mengurangi impor RON 90,” jelasnya.

Bahlil menegaskan, pemenuhan kebutuhan energi nasional merupakan amanat konstitusi sebagaimana tercantum dalam Pasal 33 UUD 1945. Oleh karena itu, penguatan dan pengembangan kilang minyak menjadi bagian dari tanggung jawab negara dalam menjamin ketersediaan energi bagi masyarakat.

Untuk mewujudkan kemandirian energi, pemerintah menyiapkan tiga strategi utama, yakni peningkatan kapasitas kilang, diversifikasi energi melalui optimalisasi biodiesel seperti B40, serta menjaga keseimbangan antara pasokan dan kebutuhan BBM nasional.

Baca Juga :   Cacar Monyet Belum Ditemukan di Balikpapan, Dr. Dio : Cegah Dengan Hidup Sehat

RDMP Balikpapan sendiri dilengkapi fasilitas utama berupa Crude Distillation Unit (CDU) dan Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC). Melalui CDU, kapasitas kilang Balikpapan yang sebelumnya 260 ribu barel per hari kini meningkat menjadi 360 ribu barel per hari.

Adapun unit RFCC berfungsi mengolah residu minyak mentah menjadi produk bernilai tinggi dengan kualitas bahan bakar yang mendekati standar Euro 5 serta lebih ramah lingkungan.

Proyek ini juga terintegrasi dengan dua tangki penyimpanan di Lawe-lawe berkapasitas total 2 juta barel serta Terminal BBM Tanjung Batu berkapasitas 125 ribu kiloliter, yang berperan penting dalam mendukung distribusi BBM ke wilayah Indonesia bagian timur.

You May Also Like