Jakarta – Balai Besar Taman Nasional Kerinci Seblat (BBTNKS) resmi menghentikan sementara seluruh aktivitas pendakian Gunung Kerinci menyusul peningkatan aktivitas vulkanik gunung api tertinggi di Indonesia tersebut. Penutupan diberlakukan mulai Selasa, 6 Januari 2026, hingga waktu yang belum ditentukan.
Keputusan ini diambil setelah BBTNKS menerima pemberitahuan resmi dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terkait lonjakan aktivitas kegempaan yang terekam sejak Minggu, 4 Januari 2026. Saat ini, Gunung Kerinci yang memiliki ketinggian 3.805 meter di atas permukaan laut berstatus Level II atau Waspada.
Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I BBTNKS, David, menjelaskan bahwa hasil pemantauan menunjukkan peningkatan signifikan aktivitas seismik. Dalam periode pengamatan tersebut, tercatat ratusan kejadian gempa, terdiri dari gempa vulkanik dangkal dan dalam, gempa hembusan, gempa frekuensi rendah, gempa hybrid, hingga gempa tektonik lokal dan jauh. Bahkan, satu kali gempa dilaporkan sempat dirasakan dengan intensitas ringan.
“Dengan mempertimbangkan hasil pemantauan tersebut, kami memutuskan untuk menutup sementara seluruh jalur pendakian demi keselamatan pengunjung dan masyarakat,” ujar David dalam keterangan tertulis, Selasa (6/1).
BBTNKS sebelumnya juga telah mengeluarkan imbauan agar masyarakat dan wisatawan menunda aktivitas pendakian hingga kondisi dinyatakan aman. Berdasarkan pengamatan visual terakhir, Gunung Kerinci terpantau jelas hingga tertutup kabut tipis, tanpa terlihat asap kawah. Meski demikian, potensi aktivitas erupsi masih tetap diwaspadai.
PVMBG mengingatkan masyarakat untuk tidak beraktivitas dalam radius tiga kilometer dari kawah aktif Gunung Kerinci. Selain itu, jalur penerbangan di sekitar kawasan gunung juga diminta untuk mewaspadai kemungkinan letusan abu vulkanik yang dapat mengganggu keselamatan penerbangan.
Penutupan pendakian berlaku untuk seluruh jalur, baik melalui Jalur R.10 Kersik Tuo di Kabupaten Kerinci maupun Jalur Camping Ground Bukit Bontak di Kabupaten Solok Selatan. BBTNKS menegaskan pendakian baru akan dibuka kembali setelah ada rekomendasi resmi dan kondisi gunung dinyatakan aman.
