Pelatihan Plts Di Balikpapan, Siapkan Sdm Hadapi Era Pasca-Tambang

Balikpapan, 16 April 2026 — Upaya mendorong transisi energi bersih sekaligus menyiapkan sumber daya manusia (SDM) menghadapi era pasca-tambang mulai direalisasikan di Kalimantan Timur. Melalui pelatihan pembangunan dan pemasangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), sebanyak 16 peserta dari berbagai daerah mengikuti program intensif yang digelar di Balikpapan.

Kegiatan ini diselenggarakan oleh CV. Borneo Energy Harapan dengan dukungan lembaga internasional berbasis di Australia yang bergerak di bidang pendidikan dan pengembangan, serta bagian dari program advokasi mitra Jerman untuk pemerintah daerah Kalimantan Timur.

Peserta berasal dari sejumlah wilayah seperti Berau, Sangatta, Bontang, Samarinda hingga Penajam Paser Utara (PPU). Mereka direkrut melalui kerja sama dengan serikat pekerja, termasuk KSPI, dengan kriteria tertentu. Meski program awalnya menyasar pekerja yang terdampak langsung dari sektor tambang, keterbatasan waktu membuat sebagian besar peserta berasal dari kalangan umum dan generasi muda yang memiliki minat di bidang energi terbarukan.

CEO PT Energy Terbarukan, Rizal, menjelaskan bahwa program ini merupakan langkah konkret dalam menyiapkan tenaga kerja alternatif di tengah tren penurunan industri berbasis sumber daya alam.

Baca Juga :   Peringati Hari Anti Korupsi, Formak Indonesia Gelar Unjuk Rasa Di Halaman Kantor DPRD Balikpapan

“Tujuan utama program ini adalah mempersiapkan tenaga kerja pasca-tambang. Kita tidak bisa selamanya bergantung pada batu bara, sehingga perlu ada transisi ke energi terbarukan, salah satunya PLTS,” ujarnya.

Seluruh pembiayaan kegiatan ditanggung oleh pihak sponsor, mulai dari transportasi, akomodasi hingga uang saku peserta. Hal ini memungkinkan peserta mengikuti pelatihan secara maksimal tanpa kendala finansial.

Pelatihan berlangsung selama dua minggu dengan kurikulum yang memadukan teori dan praktik. Pada sesi teori, peserta dibekali pemahaman dasar kelistrikan, sistem dan komponen PLTS, serta prinsip kerja energi surya. Selain itu, materi keselamatan kerja (safety) menjadi bagian utama yang ditekankan dalam pelatihan.

“Keselamatan itu satu paket penting. Kami tidak hanya mengajarkan cara memasang, tetapi juga bagaimana bekerja dengan standar keamanan yang benar, karena ini berkaitan dengan kelistrikan,” jelas Rizal.

Untuk sesi praktik, peserta langsung melakukan simulasi pemasangan PLTS sederhana. Pendekatan ini bertujuan agar peserta memiliki pengalaman teknis yang aplikatif saat terjun ke lapangan.

Setelah pelatihan, peserta akan mengikuti uji kompetensi yang bekerja sama dengan Lembaga Sertifikasi Kompetensi (LSK) Gatrik dari Jakarta. Sertifikasi ini menjadi bukti bahwa peserta memiliki kemampuan sesuai standar nasional.

Baca Juga :   Gandeng GMNI, Polda Kaltim Bagikan Sembako ke Warga

“Dengan sertifikasi ini, mereka punya nilai tambah dan pengakuan resmi. Ini penting sebagai tolak ukur kompetensi ketika masuk ke dunia kerja,” tambahnya.

Dalam pelaksanaannya, pelatihan ini juga melibatkan instruktur profesional, termasuk tenaga ahli di bidang kelistrikan dan energi terbarukan, baik dari dalam maupun luar daerah. Materi disusun secara sistematis agar peserta mampu memahami konsep hingga implementasi secara menyeluruh.

Dari sisi peluang, sektor energi surya dinilai semakin menjanjikan. Seiring berkembangnya teknologi dan meningkatnya skala produksi, biaya pembangunan PLTS kini semakin kompetitif dan mampu bersaing dengan pembangkit listrik berbasis fosil.

“Kalau dulu kendalanya di harga, sekarang sudah jauh lebih kompetitif. Bahkan di beberapa daerah, PLTS sudah bisa bersaing dengan pembangkit konvensional,” ungkap Rizal.

Namun demikian, tantangan tetap ada, terutama terkait kestabilan pasokan energi yang bergantung pada sinar matahari serta keterbatasan jaringan listrik. Untuk mengatasi hal tersebut, diperlukan dukungan teknologi seperti baterai penyimpanan energi.

Di sisi lain, pemerintah juga mulai mendorong penggunaan energi terbarukan melalui berbagai kebijakan. Hal ini membuka peluang besar, baik dari sisi usaha maupun penyerapan tenaga kerja.

Baca Juga :   Kepala Satpol PP Sebut Status Balikpapan Masih Berada di PPKM Level 1

Dalam satu proyek PLTS berkapasitas 1 megawatt, dapat menyerap sekitar 25 hingga 30 tenaga kerja. Kondisi ini menunjukkan bahwa sektor energi terbarukan berpotensi menjadi alternatif lapangan kerja baru bagi masyarakat.

“Kita melihat ini bukan hanya soal energi, tetapi juga peluang ekonomi. Tantangannya adalah bagaimana kita bisa menyiapkan SDM yang siap terjun ketika peluang itu datang,” jelasnya.

Rizal juga menilai pentingnya kolaborasi antara pemerintah, swasta, dan lembaga internasional dalam mempercepat pengembangan sektor ini. Menurutnya, tanpa sinergi, pengembangan energi terbarukan akan sulit berjalan optimal.

“Kita tidak bisa berjalan sendiri. Harus ada kerja sama, baik dengan pemerintah daerah maupun pihak lain, agar ekosistem ini bisa tumbuh,” katanya.

Ke depan, program pelatihan serupa diharapkan dapat diperluas, termasuk menyasar institusi pendidikan seperti SMK, agar regenerasi tenaga kerja di sektor energi terbarukan dapat berjalan lebih sistematis.

Pelatihan ini menjadi langkah awal dalam membangun kesiapan SDM lokal menghadapi perubahan struktur ekonomi, sekaligus memperkuat posisi Kalimantan Timur dalam pengembangan energi bersih dan berkelanjutan di Indonesia.

You May Also Like